Showing posts with label Refleksi Diri. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Diri. Show all posts

Thursday, January 22, 2009

SENI ITU INDAH....










Walaupun aku tidak begitu memahami aspek artistik dalam sesuatu karya seni visual, tapi aku kagum dengan idea pelukis yang melukiskan karya-karya di atas. Secara peribadi, aku kagum dengan idea menggabungkan antara 'alam' sebenar dengan 'alam' fantasi pelukis. Bagi aku, kita harus ada sifat yang mampu membuat apreseasi terhadap nilai-nilai seni seperti seni visual dan sastera. Malah ia dilihat sebagai pelengkap terhadap ilmu-ilmu yang sedia ada. Malah ia boleh membina dan menyuburkan aspek metal kita.
Justeru, jika kita menemui sesuatu yang cantik, tidaklah pula cuba untuk merosakkannya malah membiarkan ia terus kekal dalam keadaan semulajadi bagi dinikmati kecantikannya oleh seramai manusia. Sebagai contoh bunga. Jika kita tidak mempunyai nilai seni yang tinggi, kita akan memetik bunga tersebut dan disimpan dalam bilik atau rumah kita. Sedangkan jika kita biarkan ia kekal dalam alam semulajadi, ia bukan sahaj akan terus hidup malah, akan dapat dinikmati oleh seramai mungkin manusia lain.
Begitulah seni dan kahidupan kita....

Sunday, January 11, 2009

BEAUTIFUL MESSEGE TO THINK..

Little girl and her father were crossing a bridge.The father was kind of scared so he asked his little daughter, 'Sweetheart, please hold my hand so that you don't fall into the river.' The little girl said, 'No, Dad. You hold my hand.' 'What's the difference?' Asked the puzzled father.'There's a big difference,' replied the little girl. 'If I hold your hand and something happens to me, chances are that I may let your hand go. But if you hold my hand, I know for sure that no matter what happens, you will never let my hand go.' In any relationship, the essence of trust is not in its bind, but in its bond. So hold the hand of the person who loves you rather than expecting them to hold yours...

LIFE IS A GIFT...

Here is another email I received from my friend. Heave a read and deep thinking about it... and please circulate to another..
Today before you say an unkind word - Think of someone who can't speak.
Before you complain about the taste of your food - Think of someone who has nothing to eat.
Before you complain about your husband or wife - Think of someone who's crying out to GOD for a companion.
Today before you complain about life - Think of someone who died too early on this earth.
Before you complain about your children - Think of someone who desires children but they're barren.
Before you argue about your dirty house someone didn't clean or sweep - Think of the people who are living in the streets.
Before whining about the distance you drive Think of someone who walks the same distance with their feet.
And when you are tired and complain about your job - Think of the unemployed, the disabled, and those who wish they had your job.
But before you think of pointing the finger or condemning another - Remember that not one of us is without sin.
And when depressing thoughts seem to get you down -
Put a smile on your face and think: you're alive and still around.

Saturday, January 10, 2009

KESEMPATAN YANG SEKELUMIT...

Sejak tahun masihi 2009 menjelang dan sejak sesi persekolahan baru bermula terasa benar hambatan masa membelengguku... Senario itu ditambah lagi dengan kekalutan di sekolah dengan pelaksanaan p&pnya... Justeru, masa senggangku juga untuk mencatat sesuatu dalam blogg ini juga kian terbatas.
Cuma, lewat malam ini aku ruangkan waktu untuk mencatat sesuatu untuk kita fikirkan bersama... Kalau-kalau ada baiknya. Lewat petang tapi aku dihkhabarkan lagi dengan berita yang mengejutkan... Seorang jiranku.. sebaya aku.. telah kembali ke rahmatullah... Sakitnya asma... Alhamdulillah kira-kira jam 6.30 petang tadi aku sempat menziarahi Allahyarham di Klinik Kemsyarakatan Tanjong Malim...
Aku jadi insaf... betapa usia sebaya aku ini kini adalah usia yang sangat 'rapuh'. Beberapa berita kematian sejak akhir-akhir ini dalam lingkungan usia 40-an inilah. Kita ini... kalaupun dilihat sangat hebat, anggun, berpengaruh, popular, dihormati dan disayangi, hanya sementara nyawa dikandung badan. Setelah nyawa meninggalkan kita, tinggallah sekujur badan yang kaku sudah tidak boleh berbuat apa-apa lagi... menunggu dimandikan, dikapankan, disembahyangkan, ditalkinkan dan dikebumikan! Tinggallah segala-galanya melainkan amal ibadah serta amal-amal jariah, ilmu-ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain dan doa-doa anak-anak yang soleh...
Aku menjadi betul-betul insaf... jika aku yang berada di tempat itu! Amalku? Oh... sangat merisaukan... Tapi, waktu itu sudah tidak ada lagi gunanya sesalan... Kita tidak tahu bila tibanya giliran kita itu... Esok, lusa, tulat dan seterusnya... Betullah kata Herman Tino dalam lagunya... "Mati adalah pasti.. hidup, Insya Allah"...
Semoga Allah S.W.T. menempatkan Allahyarham Nik Ahmad Iskandar di sisi insan yang beriman dan bertaqwa... Amin.. (Foto: Hanya hiasan)

Thursday, January 1, 2009

KISAH EMPAT ISTERI...

Ini juga adalah kiriman email yang aku terima daripada seorang rakanku. Bacalah nescaya ada pengajaran di sebaliknya...
Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang isteri. Dia mencintai isteri yang keempat dan memberikan harta dan kesenangan yang banyak. Sebab isteri keempat adalah yang tercantik di antara kesemua isterinya. Maka, tidak hairan lelaki ini sering memberikan yang terbaik untuk isteri keempatnya itu.
Pedagang itu juga mencintai isterinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan isterinya ini, dan sering berusaha untuk memperkenalkan isteri ketiganya ini kepada semua temannya. Namun dia juga selalu bimbang ka u-kalau isterinya ini akan lari dengan lelaki yang lain.
Begitu juga dengan isterinya yang kedua. Dia juga sangat menyukainya. Dia adalah seorang isteri yang sabar dan penuh pengertian. Bila-bila masa pun apabila pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pandangan isterinya yang kedua ini. dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melalui masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan isterinya yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia sering membawa kebaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha si suami. Akan tetapi si pedangang tidak begitu mencintainya. Walaupun isteri pertamanya ini begitu sayang kepadanya namun, pedagang ini tidak begitu memperdulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Kemudian dia menyedari mungkin masa untuknya hidup tinggal tidak lama lagi. Dia mula merenungi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, “Saat ini, aku punya empat orang isteri. Namun, apabila aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”
Lalu dia meminta semua isterinya datang dan kemudian mulai bertanya pada isteri keempatnya, “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah sekarang, aku akan mati, mahukah kaumendampingiku dan menemaniku?” Isteri keempatnya terdiam.
”Tentu ! saja tidak!” jawab isterinya yang keempat, dan pergi begitu sahaja tanpa berkata-kata lagi. Jawapan itu sangat menyakitkan hati seakan-akan ada pisau yang terhunus dan menghiris-hiris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada isteri ketiganya, “Aku pun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Mahukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?”. Isteri ketiganya menjawab, “Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati”. Pedagang begitu terpukul dengan jawapan isteri ketiganya itu.
Lalu, dia bertanya kepada isteri keduanya, “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mahu membantuku. Kini, aku perlu sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, mahukah kau ikut dan mendampingiku? ” Si isteri kedua menjawab perlahan, “Maafkan aku…aku tak mampu menolongmu kali ini. Aku hanya boleh menghantarmu ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.”
Jawapan itu seperti kilat yang menyambar. Si pedagang kini berasa putus asa. Tiba-tiba terdengar satu suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.”
Si pedagang lalu menoleh ke arah suara itu dan mendapati isteri pertamanya yang berkata begitu. Isteri pertamanya tampak begitu kurus. Badannya seperti orang yang kelaparan. Berasa menyesal, si pedagang Lalu berguman, “Kalau saja aku mampu melayanmu lebih baik pada saat aku mampu, tak akan ku biarkan kau seperti ini isteriku.”
Teman, sesungguhnya kita punya empat orang isteri dalam hidup ini;

ISTERI KEEMPAT
adalah tubuh kita. Seberapa banyak waktu dan belanja yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera apabila kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadapNYA.
ISTERI KETIGA
adalah status sosial dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada! yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya.
ISTERI KEDUA
pula adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan mampu bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
DAN SESUNGGUHNYA ISTERI PERTAMA
adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan peribadi.Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk Terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal kemudian hari!…

SEKADAR MENUNGAN...

Baru-baru ini aku menerima kiriman email daripada seorang rakanku. Setelah difikir-fikirkan... akhirnya aku rasa ada baiknya kalau ia dipaparkan dalam bloggku ini. Hal ini kerana ia sedikit sebanyak menyentuh tentang kejadian makhluk Tuhan di atas muka bumi ini (?). Versi asal email itu dalam Bahasa Inggeris... Berikut adalah emailnya;
Pada suatu ketika dahulu tatkala Tuhan menjadikan seekor kaldai, berkatalah Tuhan kepada kaldai itu, "Aku jadikan engkau sebagai seekor kaldai, engkau akan berkerja tanpa kenal erti penat dari terbit matahari sehingga terbenam matahari memikul beban di atas belakangmu. Rumput itu makananmu!. Engkau tidak memiliki kebijaksanaan dan engkau akan hidup selama 50 tahun." Maka kaldai itu menjawab, "Ya, aku akan hidup sebagai seekor kaldai, tetapi 50 tahun itu terlalu lama... Berilah aku cuma 20 tahun." Tuhan memperkenankan permintaannya.
Tuhan menjadikan pula seekor anjing. Dan berkata Tuhan kepada anjing itu, "Aku jadikan engkau sebagai seekor anjing, engkau akan menjadi pengawal rumah manusia. Engkau akan menjadi kawan rapat manusia. Engkau akan makan bahan sisa yang diberikan kepadamu, dan engkau akan hidup selama 30 tahun." Maka anjing itu menjawab, "Tuhan, hidup selama 30 tahun itu terlalu lama, berilah aku 15 tahun sahaja." Tuhan memperkenankan permintaan anjing itu.
Tuah mencipta pula seekor kera. Dan berkata Tuhan kepada kera itu, "Engkau aku jadikan sebagai seekor kera. Engkau akan berayun-ayun dari cabang pokok ke cabang pokok yang lain sambil membuat aksi yang melucukan. Engkau akan menghiburkan manusia, dan engkau akan hidup selama 20 tahun." Maka kera itu menjawab, "Hidup selama 20 tahun itu terlalu lama, berilah aku sekadar 10 tahun sahaja." Tuhan memakbulkan permintaan kera itu.
Akhirnya Tuhan mencipta manusia. Dan berkata Tuhan kepada manusia, "Aku jadikan engkau sebagai manusia. satu-satunya mahkluk yang paling bijak dia atas muka bumi ini. Engkau akan menggunakan kebijaksanaan engkau untuk menjadi jaguh antara semua haiwan. Engkau akan menguasai dunia ini dan Aku beri engkau hidup selama 20 tahun." Maka manusia itu menjawab, "Tuhan, aku terima kejadianku sebagai manusia. Tetapi, hidup selama 20 tahun terlalu singkat. Bagilah aku 30 tahun yang kaldai tak terima, 15 tahun yang anjing tak mahu, dan 10 tahun yang kera tak ingin." Tuhan memakbulkan juga permintaan manusia itu.
Justeru, sehingga sekarang manusia hidup sebagai manusia yang sebenar hanya selama 20 tahun sehinggalah berkeluarga. Selepas itu selama 30 tahun berikutya seperti seekor kaldai yang berkerja dan memikul segala bebanan di atas belakangnya. Apabila anak-anaknya meningkat dewasa, dia akan hidup selama 15 tahun berikutnya seperti seekor anjing menjaga rumah dan makan apa yang diberikan oleh mereka. Bila hidupnya sudah semakin tua, 10 tahun berikutnya dia akan menjadi persis seekor kera bertandang dari rumah ke rumah, dari rumah anak lelaki ke rumah anak perempuan membuat helah atau kelakar bagi menghiburkan cucu-cucunya.
Itulah kehidupan.... Fikir-fikirkan....

Thursday, December 11, 2008

CERITA PILU SEORANG KAWAN..

Beberapa ketika lalu... aku didatangi cerita secara online tentang seorang kawan virtual. Cerita tentang adiknya yang bakal kehilangan anak-anak lantaran si isteri menuntut cerai daripadanya. Si anak akan diambil sepenuhnya oleh si isteri... Selepas 2 tahun si suami bersabar... dah tak boleh tahan dengan desakan-desakan si isteri mintak dilepaskan bersama-sama anak-anaknya.
Ceritanya bermula bila si isteri berpeluang sambung belajar ke peringkat ijazah dan selepas tamat pengajian, perubahan demi perubahan kian jelas... Keadaan itu dirangsang lagi dengan kehadiran orang ketiga. Kini si suami ke arah mahu memenuhi tuntutan si isteri itu...
Persoalannya kini... apakah nawaitu kita belajar ya? Atau dalam bahasa yg lebih sopan "menimbu ilmu" sampai ke menara gading? Untuk ilmu kah atau untuk ganjaran-ganjaran di sebaliknya? Mungkin ada yang kata dua-dua lah... Ok betul... kedua-duanya perlu. Tetapi mana yang pertama? Silap memilih keutamaan kita akan kecundangan!
Jika kita salah pilih dengan mendahulukan yang tak sepatutnya didulukan... ilmu itu tidak persis buah padi... "semakin berisi... semakin tunduk"... Malah ia akan jadi macam lalang.. "makin tua makin berdiri"... malah yang paling dahsyat lagi ialah ia akan menjadi mekanisme yang menentukan tinggi dan rendahnya status atau drjat seseorang! (Tinggi dan rendah itu boleh diterjemahkan ke dalam pelbagai situasi yang lain).
Sepatutnya setiap ilmu yang dipelajari akan menjadi dian atau lilin bagi menerangi setiap kegelapan dalam diri kita... Bukan sahaja ilmu agama. Apa-apa juga ilmu itulah sifatnya... Justeru bila kita berilmu dan 'alim dengan ilmu itu... kita akan rasa tawadhuk. Berkongsi ilmu itu dengan orang-orang yang terhampir... yang memberi sokongan dan dokongan kepada kita semasa proses pencarian ilmu itu berlangsung... Kerana sifat ilmu itu semakin dikongsi semakin bertambah... bukan macam duit atau harta... Semakin dikongsi semakin habis!
Justeru, amat malanglah golongan kedua itu. Lantaran ilmu itu dianggap sebagai mekanisme menjadikannya lebih pandai, hebat dan gah menyebabkan hilang nikmat-nikmat lain yang sangat tinggi nilainya. Umpamanya rasa sayang, kasih dan cinta kepada insan yang sewajibnya kita cintai dan sayangi...

KOMEN MINDA TERKINI...

TERIMA KASIH ATAS KESUDIAN MENGUNJUNGI LAMAN INI...